Hubungan pendidikan, pengetahuan, dan sikap ibu menyusui terhadap ASI eksklusif


BAB I

PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang
Situasi Derajat Kesehatan masyarakat dapat tercermin melalui angka morbiditas, mortalitas dan status gizi.  Tingginya Angka Kematian Bayi (AKB) di Indonesia pada tahun 2007  35 per 1.000 kelahiran hidup. Survey Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2007 mencatat rata-rata pertahun terdapat 401 bayi baru lahir di Indonesia meninggal dunia sebelum umurnya genap 1 tahun. (DepKes, 2010)
Menurut  Hegar dalam Zakaria (2009) banyak faktor yang menyebabkan angka kematian bayi, antara lain disebabkan sepsis, kelainan bawaan, infeksi saluran pernafasan atas serta lingkungan seperti keadaan geografis, dan faktor nutrisi. Angka Kematian bayi yang cukup tinggi dapat dihindari dengan pemberian Air Susu Ibu (ASI), banyak penelitian dilakukan, teknologi canggih digunakan, namun tindakan preventif yang paling ampuh dilakukan untuk menyelamatkan bayi-bayi Indonesia adalah melakukan Inisiasi Menyusui Dini (IMD) dan memberikan ASI eksklusif.
Air Susu Ibu (ASI) adalah makanan terbaik dan paling sempurna bagi bayi, mudah dicerna dan diserap, dapat mencegah penyakit infeksi dan mencegah alergi. (Yuliarti, 2010). Sedangkan ASI eksklusif adalah bayi hanya diberi ASI saja sampai bayi berusia 6 bulan tanpa tambahan cairan lain seperti susu formula, jeruk, madu, air teh, air putih dan tanpa tambahan makanan padat seperti pisang, pepaya, bubur susu, biskuit, bubur nasi dan tim. (Maryunani, 2010)
Departemen Kesehatan RI menganjurkan pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan, tanpa pemberian makanan lain dan pemberian ASI dilanjutkan sampai bayi berumur sekurang-kurangnya 2 tahun. Pemberian ASI sangat menguntungkan bagi bayi dan keluarga, namun pemberian ASI eksklusif di Indonesia masih jauh dari yang diharapkan. Selain kesadaran ibu dan keluarga yang masih kurang, mitos yang berkembang di masyarakat seperti ASI akan mempengaruhi bentuk dan keindahan payudara, jika payudara kecil produksi ASI kecil, pemberian ASI dilarang bagi bayi yang diare dan sebagainya sangat berpengaruh dalam pemberian ASI. Kerugian jika anak-anak tidak diberi ASI secara eksklusif sangat rentan terkena penyakit kronis seperti kanker, jantung, hipertensi dan diabetes setelah dewasa nanti, tidak hanya itu anak juga dapat menderita kekurangan gizi dan mengalami kegemukan (obesitas). (Yuliarti, 2010)
Pendapat Utami dalam Siregar (2010) fenomena kurangnya pemberian ASI eksklusif disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya pengetahuan ibu yang kurang memadai tentang ASI eksklusif, beredarnya mitos yang kurang baik tentang ASI eksklusif, serta kesibukan ibu dalam melakukan pekerjaanya dan singkatnya pemberian cuti melahirkan yang diberikan oleh pemerintah terhadap ibu yang bekerja, merupakan faktor yang mempengaruhi pemberian ASI ekslusif. Faktor lain adalah faktor sosial budaya ekonomi (pendidikan formal ibu, pendapatan keluarga dan status kerja ibu), faktor psikologis (takut kehilangan daya tarik sebagai wanita, tekanan batin), faktor fisik ibu (ibu yang sakit, misalnya mastitis, dan sebagainya), faktor kurangnya petugas kesehatan sehingga masyarakat kurang mendapat penerangan atau dorongan tentang manfaat pemberian ASI eksklusif. 
Rendahnya cakupan pemberian ASI eksklusif dapat disebabkan karena masih kurangnya pemahaman masyarakat dan petugas kesehatan mengenai manfaat dan pentingnya ASI eksklusif, adanya promosi dan pemasaran yang begitu intensif terkait susu formula yang sulit dikendalikan serta masih banyak Rumah Sakit (RS) yang belum mendukung pemberian ASI eksklusif  yang ditandai dengan belum melakukan rawat gabung antara ibu dan bayinya, belum/masih rendahnya melakukan IMD dan masih beredarnya susu formula di lingkungan RS. Cakupan pemberian ASI ekskusif secara nasional berfluktuasi selama 3 tahun terakhir. Cakupan pemberian ASI ekskusif sampai 6 bulan turun dari 28,6 % pada tahun 2007 menjadi 24,3 pada tahun 2008 dan naik lagi menjadi 34,4 % pada tahun 2009. (DepKes, 2010)
Pemberian ASI eksklusif selain dipengaruhi oleh tradisi juga dipengaruhi oleh pendidikan, pengetahuan dan sikap ibu menyusui tersebut yaitu pendidikan yang tinggi cenderung memiliki pengetahuan yang baik dan sikap yang positif sehingga cenderung akan memberikan ASI eksklusif kepada bayinya.
Rendahnya pendidikan, rendahnya pengetahuan dan sikap yang negatif  menyebabkan ibu-ibu mudah terpengaruh dan beralih kepada susu botol (susu) formula. Kesehatan/status gizi bayi/anak serta kelangsungan hidupnya akan lebih baik bagi bayi-bayi yang mendapat Asi Eksklusif. (Hapsari, 2009)
Menurut Notoatmodjo (2003) dalam wawan & Dewi (2010), pendidikan dapat mempengaruhi seseorang termasuk juga perilaku seseorang akan pola hidup terutama dalam memotivasi untuk sikap berperan serta dalam pembangunan, pada umumnya makin tinggi pendidikan seseorang makin mudah menerima informasi.
Menurut Lawrence Green dalam Notoadmodjo (2007), selain dipengaruhi oleh kepercayaan dan nilai-nilai (tradisi dan adat istiadat) perilaku kesehatan juga dipengaruhi oleh pengetahuan dan sikap dari individu yang bersangkutan.
Data Puskesmas Anjir Serapat menunjukan bahwa (tahun 2009) bayi yang berusia 6-12 bulan sebanyak 264 0rang, dengan target 80 % dan pencapaian hanya 2 orang dari 264 bayi (0,75 %). Sedangkan (tahun 2010) bayi yang berusia 6-12 bulan sebanyak 196 orang, dengan target 80 % pencapaian hanya 2 orang (1,02 %). (Profil Puskesmas, 2010)
Pencapaian ASI eksklusif  dari tahun 2009 - 2010 dar 0,75 % menjadi 1,02 %. Kenaikannya tidak signifikan dan masih jauh dari harapan (target). Berdasarkan pencapaian dari tahun ketahun tidak ada peningkatan maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian yang berjudul “Hubungan pendidikan, pengetahuan dan sikap ibu menyusui dengan pemberian ASI eksklusif di wilayah kerja Puskesmas Anjir Serapat Kabupaten Kapuas Tahun 2011”



B.       Rumusan Masalah
Pencapaian ASI eksklusif pada tahun 2009 dan 2010 sebesar 2 (0,8 %)  tidak ada peningkatan dan jauh dari target yang diharapkan sebesar 80 %. Berdasarkan latar belakang maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai  berikut ” Apakah ada hubungan pendidikan, pengetahuan dan sikap ibu menyusui dengan pemberian ASI eksklusif di wilayah kerja Puskesmas Anjir Serapat Kabupaten Kapuas Tahun 2011 ? ”.

C.      Tujuan Penelitian
1.      Tujuan Umum
Mengetahui hubungan pendidikan, pengetahuan dan sikap ibu menyusui dengan pemberian ASI eksklusif di wilayah kerja Puskesmas Anjir Serapat Kabupaten Kapuas Tahun 2011.

2.      Tujuan Khusus
a.       Mengidentifikasi pemberian ASI eksklusif di wilayah kerja Puskesmas Anjir Serapat Kabupaten Kapuas Tahun 2011.
b.      Mengidentifikasi pendidikan ibu yang mempunyai bayi  6-12 bulan di wilayah kerja Puskesmas Anjir Serapat Kabupaten Kapuas Tahun 2011.
c.       Mengidentifikasi pengetahuan ibu yang mempunyai bayi  6-12 bulan tentang Asi eksklusif di wilayah kerja Puskesmas Anjir Serapat Kabupaten Kapuas Tahun 2011.
d.      Mengidentifikasi sikap ibu yang mempunyai bayi  6-12 bulan terhadap pemberian ASI eksklusif di wilayah kerja Puskesmas Anjir Serapat Kabupaten Kapuas Tahun 2011.
e.       Menganalisa hubungan pendidikan ibu yang mempunyai bayi  6-12 bulan dengan pemberian ASI eksklusif di wilayah kerja Puskesmas Anjir Serapat Kabupaten Kapuas Tahun 2011.
f.       Menganalisa hubungan pengetahuan ibu yang mempunyai bayi  6-12 bulan dengan pemberian ASI eksklusif di wilayah kerja Puskesmas Anjir Serapat Kabupaten Kapuas Tahun 2011.
g.      Menganalisa hubungan sikap ibu menyusui terhadap pemberian ASI eksklusif di wilayah kerja Puskesmas Anjir Serapat Kabupaten Kapuas Tahun 2011.

D.      Manfaat Penelitian
1.      Bagi Puskesmas dan Instansi
Puskesmas dan Instansi Dinas Kesehatan Kabupaten Kapuas sebagai
 bahan masukan dan pemikiran serta sebagai bahan evaluasi bagi peningkatan cakupan pemberian ASI eksklusif pada bayi usia 0-6 bulan dimasa mendatang.

2.      Bagi Peneliti Selanjutnya
Dapat menambah pengetahuan dan pengalaman serta wawasan dalam melakukan penelitian analitik serta sebagai penerapan ilmu yang telah didapat selama mengikuti pendidikan.
E.       Keaslian Penelitian
Ada beberapa penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti yang hampir sama dan berhubungan dengan penelitian ini antara lain:
1.      Yulina (2011) penelitian mengenai ”Hubungan Pendidikan dan Pengetahuan Ibu Menyusui dengan Pemberian ASI eksklusif pada bayi 0-6 bulan di wilayah kerja Puskesmas Paringin”, dengan variabel pemberian ASI eksklusif, pendidikan dan pengetahuan. Hasil penelitiannya ada hubungan pendidikan ibu menyusui dengan pemberian ASI eksklusif di wilayah kerja Puskesmas Paringin Tahun 2011 dan ada hubungan pengetahuan ibu menyusui dengan pemberian ASI eksklusif, tempat penelitian di wilayah kerja Puskesmas Paringin Tahun 2011.

2.      Wahidah (2009) penelitian mengenai ”Hubungan pengetahuan dan sikap ibu menyusui terhadap pemberian ASI eksklusif di wilayah kerja Puskesmas Anjir Muara Kecamatan Anjir Muara tahun 2009”. Variabel yang digunakan pemberian ASI eksklusif, pengetahuan dan sikap ibu, tempat penelitian di wilayah kerja Anjir Muara Barito Kuala.

3.      Pahliana (2010) penelitian mengenai ”Hubungan tingkat pengetahuan ibu dengan pemberian ASI eksklusif pada bayi 0-6 bulan di Puskesmas Haruai Kec. Haruai Kab. Tabalong Tahun 2009”. Variabel yang digunakan adalah pemberian ASI eksklusif dan tingkat pengetahuan ibu.

Perbedaannya dengan penelitian sekarang adalah peneliti mengunakan variabel pemberian ASI eksklusif, pendidikan, pengetahuan dan sikap. Penelitian di tempat berbeda di wilayah kerja Puskesmas

0 komentar:

Poskan Komentar